Pengabdian di Pesantren: Strategi Mengamalkan Ajaran Para Sufi

26

Abu Sa’id ketika ditanya perihal jumlah jalan menuju Tuhan, menjawab: “Menurut beberapa catatan, ada seribu jalan, menurut catatan lain, jalan menuju Tuhan sebanyak partikel yang ada di dunia ini. Tetapi jalan terpendek, terbaik dan termudah menuju Tuhan adalah memberi kenyamanan kepada orang lain.”


Beberapa catatan penting terkait ajaran atau prinsip sufi dicatat oleh Dr. Javad Nur Bakhsh. Di antara ajaran atau prinsipnya adalah pendekatan praktis (lahir) dan visioner (batin) terhadap kesatuan wujud, cinta Tuhan, seruan untuk menyembah Tuhan, keterlibatan dalam sebuah pekerjaan; menghindari kemalasan dan pengangguran, pelayanan kepada sesama dan mencintai umat manusia, tidak melawan perlakuan buruk, kesopanan spiritual, toleransi agama, kebebasan; kedermawanan; dan pelepasan diri dari dunia, sikap baik kepada binatang dan terakhir aksentuasi dimensi dalam dari syariat atas dimensi luar.


Pesantren sebagai wadah atau tempat bernaung anak-anak muda bahkan tua yang sedang dan terus memperdalam agama sangat akrab dengan ajaran-ajaran di atas. Setiap harinya berkutat dan bercengkerama dengan kitab-kitab agama, termasuk bidang hukum maupun tasawuf. Selain mendapat pelajarannya, penekanan lain adalah pengamalan ajaran-ajaran tersebut. Baik bersifat sistematis-organisir maupun kreatifitas individual.


Sistem dalam pesantren biasanya berdasar pada ajaran-ajaran agama. Melalui kreatifitas pengasuh, pembimbing dan pengurus-pengurus inti ajaran agama disistematiskan menjadi kode etik pesantren. Point-point dalam kode etik merupakan cerminan ajaran-ajaran penting dalam agama. Pengabdian jadi salah satu point terpenting dalam kode etik atau aturan yang harus dipenuhi. Ternyata, dibalik penerapan sistem pengabdian di pesantren, ada nilai, ajaran atau prinsip agama yang sangat inti.


Tugas manusia di dunia adalah menuju Tuhan; dari Tuhan kembali ke Tuhan. Pertanyaan yang sering muncul dan kadang tak kunjung segera mendapatkan jawaban adalah bagaimana manusia menempuh jalan agar sampai kepada Tuhan. Jalan mana yang bisa mengantarkan manusia menuju dan sampai pada Tuhan. Bukankah di dunia ini begitu banyak pengetahuan, ajaran, prinsip, norma, dan sejenisnya. Semuanya saling tindih berebut tempat dalam pikiran dan hati. Adakah yang terpendek dan tercepat dari sekian banyak jalan? Jawabannya ada.


Pada dasarnya para guru Sufi Klasik berjuang keras untuk membangkitkan sebuah sikap persahabatan yang saling menguntungkan dan pelayanan kepada sesama umat manusia serta untuk mendukung perkembangan kualitas-kualitas manusia di antara mereka. Mengabdi pada manusia demi kemanusiaan.


Banyak kisah yang menceritakan tentang pengabdian para guru Sufi dan pernyataan yang menunjukan pentingnya prinsip pengabdian kepada sesama. Seperti yang diriwayatkan Sari Saqati:


“Saat itu hari raya, aku melihat Ma’ruf al-Karkhi sedang mengumpulkan buah kurma. Aku bertanya kepada dia tentang tujuan pekerjaannya itu.”


“Aku meihat seorang anak menangis. Aku bertanya kepadanya mengapa menangis.”
Anak itu berkata: “Aku seorang yatim-piatu, tidak memiliki ayah dan ibu. Sekarang di hari raya, semua anak diberi baju baru. Tetapi aku tidak. Anakanak lain punya kelereng sebagai mainan, tetapi aku tidak.”

Laman: 1 2

You might also like
close