Meteor Ambyar Itu Bernama Didi Kempot

18

Didi Kempot bukan musisi karbitan kemarin sore. Dia berangkat dari pahit pahit-getir perjuangan yang memang sejak kecil telah memantapkan pilihan hidup sebagai seniman.

Dia memilih genre keroncong dangdut untuk mengeksresikan lagu-lagu ciptaannya. Lazimnya, lagu-lagunya dikategorikan sebagai lagu campursari. Hampir semua lagunya berbahasa Jawa, bahasa ibu yang sangat diakrabi dan dipahaminya luar-dalam.

Namanya mulai dikenal khalayak umum sejak melemparkan lagu ‘Stasiun Balapan’ pada 1999. Lagu yang berkisah tentang penantian seorang kekasih itu sangat terkenal, meledak di pasaran. Lagu berbahasa Jawa itu bahkan digandrungi dan dilantunkan oleh orang-orang yang sebelumnya tak paham Bahasa Jawa sekalipun.

Selanjutnya lagu-lagu Didi mengalir. Banyak karyanya yang menonjol. Salah satu ciri khas ciptaan Didi adalah syair lagunya yang menandai kehadiran di suatu tempat, lalu dia mengelaborasi dengan kemampuan mengarang sebuah pengisahan.

Dia berkisah tentang penantian di Tanjung Emas Semarang, tentang kisah cinta di Gunung Purba Nglanggeran Gunungkidul, melepas kekasih di Terminal Tirtonadi Solo, Mengenang Kekasih Pantai Parangtritis Yogyakarta, maupun Pantai Klayar Pacitan dan banyak tempat lagi. Didi memang lihai menyelipkan pesan-pesan ‘pengembaraan’ seperti itu.

Ya, Didi Prasetyo, yang kemudian terkenal dengan nama Didi Kempot, memang seorang pengembara. Sebelum terkenal, lelaki kelahiran Solo pada 1966 tersebut telah kenyang dengan gemblengan pahit-getir dunia seni. Dia sendiri berasal dari keluarga seniman. Ayahnya, (alm) Ranto Edi Gudel, adalah seniman panggung dan komedian kenamaan.

Saudara-saudara Didi juga terkenal sebagai seniman. Sebut saja (alm) Sentot Selino, penyanyi yang pernah melambung dengan lagu ‘Joko Lelur’ dan ‘Anoman Obong’. Saudara Didi lainnya adalah (alm) Mamiek Prakoso, komedian terkenal dari grup lawak Srimulat.

Laman: 1 2 3

You might also like
close